Minggu, 29 Desember 2019

PANTAI CONGOT, MUARA BOGOWONTO


Hari itu,  Hari Minggu terakhir tahun 2020, seperti biasa anak dan istrinya mengajak ke pantai. Pagi itu selepas Subuh, meluncurlah mereka ke arah barat menuju perbatasan daerah. Ya, ke sebuah pantai yang kini terhimpit pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta, Pantai Congot.

Konon, menurut salah seorang tokoh disana, pantai itu malah lebih dahulu ada dibanding pantai-pantai lain di Kulonprogo, seperti Pantai Glagah di sebelah baratnya. Orang-orang setempat bahu membahu membuka daerah itu menjadi objek wisata sebelum diambil alih oleh pemerintah daerah hingga sekarang. Dari Pantai Congot, wisatawan bisa lewat Pantai Glagah, atau sebaliknya. Dulu Pantai Congot pernah jaya, seiring perkembangan waktu Pantai Glagahlah yang lebih terkenal.

Munculnya Bandara Internasional Yogyakarta menjadi ancaman kemudian bagi keberlangsungan Pantai Congot. Lokasinya yang cukup luas, memakan jalur masuk ke pantai itu dari akses wisatawan maupun penduduk desa di sebelah utara. Ya, lokasi bandara memang dibuat mentok ke barat, sampai ke batas daerah, sampai ke pinggir Sungai Bogowonto. Wacana yang berkembang kemudian adalah menutup Pantai Congot. Warga sekitar protes, Pantai Congot menghidupi mereka. Angkasa Pura tetap meluaskan pembangunan bandara ke arah barat. Pemerintah daerah yang memperoleh pendapatan retribusi dari sana tampaknya cari aman, akan mendukung siapa nanti pemenangnya.

Namun, kini tampaknya sudah ada titik temu. Angkasa Pura membuatkan akses masuk pas di sepanjang Sungai Bogowonto. Saat ini, jalannya memang belum beraspal, namun ia malah merasa bisa menikmati Pantai Congot lebih baik daripada dahulu. Sebelum masuk Pantai Congot, ia disuguhi banyak pilihan pandangan menarik, di sisi barat, di dalam pagar kawat berduri terlihat bandara megah itu, dengan sesekali pesawat naik turun ke angkasa di dalamnya; sedang di sisi timur ia disuguhi pesona kearifan lokal perdesaan, Sungai Bogowonto dengan perahu-perahu pencari ikan diatasnya, dan suasana desa di sisi barat sungai yang masuk wilayah provinsi sebelah. Di kejauhan, terlihat pula perahu wisata menyeberangkan wisatawan dari Pantai Congot ke Pantai Mangrove Kadilangu. Mengenai Pantai Mangrove ini (yang sempat viral dengan foto laguna dengan jembatan-jembatan bambunya) sungguh unik, lokasinya di barat Sungai Bogowonto ternyata masih masuk wilayah provinsi DIY, kalau lewat jalur darat harus memutar dahulu melalui wilayah Jawa Tengah di sebelah utaranya.

Demikianlah, sesampai di pantai ia dan anak istrinya menikmati suasana pagi. Hari itu lumayan banyak pengunjung, ini libur panjang akhir tahun. Banyak pula pemancing dan penjaring ikan. Setelah puas, mereka berjalan ke barat menuju muara Sungai Bogowonto. Cuaca lumayan bersahabat, tidak mendung namun matahari juga tidak bersinar terik. Di bibir Sungai Bogowonto, ia bisa melihat empat empat gunung besar sekaligus: Sindoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi, juga deretan perbukitan Menoreh.

Tiba-tiba ia terkejut. Di sebuah tanah yang menjorok ke sungai, di sisi barat, ia melihat dua burung berbeda warna (hitam dan putih), entah itu burung apa namanya, berkejar-kejaran. Mungkin mereka sedang memadu kasih, diantara kesiur burung camar didekatnya. Pemandangan yang mungkin biasa di tempat itu, namun menggugah imajinasi akan banyak hal. Ia terpesona sesaat,  kemudian memandang anak dan istrinya yang asyik bermain di sampingnya.

Entah mengapa, ia begitu bahagia hari itu....

Sabtu, 28 Desember 2019

PROLOG


Tiga hari sebelum tahun 2020, ia duduk menghadap laptop. Malam mengalir pelan. Hujan turun terlambat, udara terasa gerah. Istri dan anaknya sudah lelap.

Lelaki itu tak tahu ingin menulis apa, sampai kemudian terbersit dalam pikirannya untuk membuat semacam catatan harian yang bisa ia tulis sambil lalu, saat senggang atau di sela-sela rutinitas pekerjaan kantor. Ya, ia pengin ngeblog lagi. Sesuatu yang pernah ia lakukan di masa lalu. Ia pernah punya blog bagus, tapi kini tak diurusnya lagi, beberapa postingan bahkan sudah ia hapus. Ia sering malu sendiri membaca tulisannya dahulu.

Demikianlah, di usianya yang sudah 42 tahun, ia ingin berbagi tentang banyak hal pada orang- orang melalui tulisan. Sebenarnya di era digital seperti sekarang, banyak sarana dapat ia gunakan untuk melakukan itu. Ada banyak media sosial seperti facebook, twitter, atau instagram dan youtube yang lebih dominan dengan konten video, namun ia tetap memilih blog walau sebenarnya ia juga punya akun-akun media sosial tersebut, tetapi tak lebih sebagai sarana silaturahim dan mencari informasi. Terlalu norak baginya yang sudah kepala empat bermain di media sosial yang lebih terkesan 'unjuk diri' itu. Ia ingin  tenang dan menikmati apa yang dilakukannya tanpa ingin mendapat respon balik dari orang lain. Yang utama, dengan menulis di blog, paling tidak ia ingin terus mengasah kemampuannya menulis dan menyusun kata-kata dengan lebih baik.

Lelaki itu kemudian mulai membuat blog baru dengan email cadangannya. Ia berpikir dan mencari nama yang tepat untuk blog tersebut. Yang pasti, ia tak ingin menggunakan nama blognya yang lama. Ia ingin membuat hal yang baru, dengan suasana dan semangat baru. Utak-atik nama, akhirnya jadilah blog ala kadarnya itu. Magnet Kata, demikian alamat blognya. Ia tak tahu mengapa ia bisa menggunakan nama itu. Mungkin karena nama itulah yang ia temukan dan tidak ditolak oleh blogspot (domain yang ia gunakan)—setelah beberapa nama yang ia anggap bagus terpental.

Ia tersenyum lega. Dalam benaknya terbayang di hari-hari mendatang, ia akan sengkut menulis di blog tersebut lewat laptop, komputer kantor, android, atau sarana lain yang bisa ia pakai di berbagai kesempatan yang memungkinkan.

Lelaki itu bergumam lirih, “Semoga saja...”