Sabtu, 28 Desember 2019

PROLOG


Tiga hari sebelum tahun 2020, ia duduk menghadap laptop. Malam mengalir pelan. Hujan turun terlambat, udara terasa gerah. Istri dan anaknya sudah lelap.

Lelaki itu tak tahu ingin menulis apa, sampai kemudian terbersit dalam pikirannya untuk membuat semacam catatan harian yang bisa ia tulis sambil lalu, saat senggang atau di sela-sela rutinitas pekerjaan kantor. Ya, ia pengin ngeblog lagi. Sesuatu yang pernah ia lakukan di masa lalu. Ia pernah punya blog bagus, tapi kini tak diurusnya lagi, beberapa postingan bahkan sudah ia hapus. Ia sering malu sendiri membaca tulisannya dahulu.

Demikianlah, di usianya yang sudah 42 tahun, ia ingin berbagi tentang banyak hal pada orang- orang melalui tulisan. Sebenarnya di era digital seperti sekarang, banyak sarana dapat ia gunakan untuk melakukan itu. Ada banyak media sosial seperti facebook, twitter, atau instagram dan youtube yang lebih dominan dengan konten video, namun ia tetap memilih blog walau sebenarnya ia juga punya akun-akun media sosial tersebut, tetapi tak lebih sebagai sarana silaturahim dan mencari informasi. Terlalu norak baginya yang sudah kepala empat bermain di media sosial yang lebih terkesan 'unjuk diri' itu. Ia ingin  tenang dan menikmati apa yang dilakukannya tanpa ingin mendapat respon balik dari orang lain. Yang utama, dengan menulis di blog, paling tidak ia ingin terus mengasah kemampuannya menulis dan menyusun kata-kata dengan lebih baik.

Lelaki itu kemudian mulai membuat blog baru dengan email cadangannya. Ia berpikir dan mencari nama yang tepat untuk blog tersebut. Yang pasti, ia tak ingin menggunakan nama blognya yang lama. Ia ingin membuat hal yang baru, dengan suasana dan semangat baru. Utak-atik nama, akhirnya jadilah blog ala kadarnya itu. Magnet Kata, demikian alamat blognya. Ia tak tahu mengapa ia bisa menggunakan nama itu. Mungkin karena nama itulah yang ia temukan dan tidak ditolak oleh blogspot (domain yang ia gunakan)—setelah beberapa nama yang ia anggap bagus terpental.

Ia tersenyum lega. Dalam benaknya terbayang di hari-hari mendatang, ia akan sengkut menulis di blog tersebut lewat laptop, komputer kantor, android, atau sarana lain yang bisa ia pakai di berbagai kesempatan yang memungkinkan.

Lelaki itu bergumam lirih, “Semoga saja...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar