Hari itu, Hari Minggu
terakhir tahun 2020, seperti biasa anak dan istrinya mengajak ke pantai. Pagi
itu selepas Subuh, meluncurlah mereka ke arah barat menuju perbatasan daerah.
Ya, ke sebuah pantai yang kini terhimpit pembangunan Bandara Internasional
Yogyakarta, Pantai Congot.
Konon, menurut salah seorang tokoh disana, pantai itu malah
lebih dahulu ada dibanding pantai-pantai lain di Kulonprogo, seperti Pantai
Glagah di sebelah baratnya. Orang-orang setempat bahu membahu membuka daerah
itu menjadi objek wisata sebelum diambil alih oleh pemerintah daerah hingga
sekarang. Dari Pantai Congot, wisatawan bisa lewat Pantai Glagah, atau sebaliknya.
Dulu Pantai Congot pernah jaya, seiring perkembangan waktu Pantai Glagahlah
yang lebih terkenal.
Munculnya Bandara Internasional Yogyakarta menjadi ancaman kemudian bagi keberlangsungan Pantai Congot. Lokasinya yang cukup luas, memakan jalur masuk ke pantai itu dari akses wisatawan maupun penduduk desa di sebelah utara. Ya, lokasi bandara memang dibuat mentok ke barat, sampai ke batas daerah, sampai ke pinggir Sungai Bogowonto. Wacana yang berkembang kemudian adalah menutup Pantai Congot. Warga sekitar protes, Pantai Congot menghidupi mereka. Angkasa Pura tetap meluaskan pembangunan bandara ke arah barat. Pemerintah daerah yang memperoleh pendapatan retribusi dari sana tampaknya cari aman, akan mendukung siapa nanti pemenangnya.
Namun, kini tampaknya sudah ada titik temu. Angkasa Pura
membuatkan akses masuk pas di sepanjang Sungai Bogowonto. Saat ini, jalannya
memang belum beraspal, namun ia malah merasa bisa menikmati Pantai Congot lebih
baik daripada dahulu. Sebelum masuk Pantai Congot, ia disuguhi banyak pilihan
pandangan menarik, di sisi barat, di dalam pagar kawat berduri terlihat bandara
megah itu, dengan sesekali pesawat naik turun ke angkasa di dalamnya; sedang di
sisi timur ia disuguhi pesona kearifan lokal perdesaan, Sungai Bogowonto dengan
perahu-perahu pencari ikan diatasnya, dan suasana desa di sisi barat sungai
yang masuk wilayah provinsi sebelah. Di kejauhan, terlihat pula perahu wisata
menyeberangkan wisatawan dari Pantai Congot ke Pantai Mangrove Kadilangu.
Mengenai Pantai Mangrove ini (yang sempat viral dengan foto laguna dengan
jembatan-jembatan bambunya) sungguh unik, lokasinya di barat Sungai Bogowonto
ternyata masih masuk wilayah provinsi DIY, kalau lewat jalur darat harus
memutar dahulu melalui wilayah Jawa Tengah di sebelah utaranya.
Demikianlah, sesampai di pantai ia dan anak istrinya
menikmati suasana pagi. Hari itu lumayan banyak pengunjung,
ini libur panjang akhir tahun. Banyak pula pemancing dan penjaring ikan.
Setelah puas, mereka berjalan ke barat menuju muara Sungai Bogowonto. Cuaca
lumayan bersahabat, tidak mendung namun matahari juga tidak bersinar terik. Di
bibir Sungai Bogowonto, ia bisa melihat empat empat gunung besar sekaligus: Sindoro,
Sumbing, Merbabu dan Merapi, juga deretan perbukitan Menoreh.
Tiba-tiba ia terkejut. Di sebuah tanah yang menjorok ke
sungai, di sisi barat, ia melihat dua burung berbeda warna (hitam dan putih),
entah itu burung apa namanya, berkejar-kejaran. Mungkin mereka sedang memadu
kasih, diantara kesiur burung camar didekatnya. Pemandangan yang mungkin biasa di tempat itu, namun menggugah imajinasi akan banyak hal. Ia terpesona sesaat, kemudian memandang anak dan istrinya yang
asyik bermain di sampingnya.
Entah mengapa, ia begitu bahagia hari itu....
Entah mengapa, ia begitu bahagia hari itu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar